Introduction to MA
Moving Average (MA) adalah salah satu indicator dalam Technical Analysis yang paling sering digunakan oleh para trader. Moving Average ini sangat efektif digunakan sebagai salah satu alat untuk menentukan support dan resistance harga.
Dasar perhitungan dari MA adalah dengan mencari harga rata-rata dari suatu emiten. Rentang waktu rata-rata harga tersebut bervariasi, tergantung parameter MA yang diinginkan.
Sebagai contoh data harga penutupan saham X selama 2 minggu (10 hari) adalah sebagai berikut:
1900,1910,1940,1920,1900,1850,1870,1900,1930,1950
Maka untuk perhitungan untuk MA(5) pada hari kesepuluh adalah:
SMA(5) = (1850+1870+1900+1930+1950)/5 = 1900
Jika hari ke-11 penutupan harga di 1930, maka MA(5) pada hari kesebelas adalah:
SMA(5) = (1870+1900+1930+1950+1930)/5 = 1916
Gambar di bawah ini adalah contoh chart ADRO dengan indicator SMA(5) warna merah dan SMA(20) warna biru

Contoh SMA 5 dan 20 ADRO
Untuk jenis-jenis SMA yang umum dipakai ada 3, yaitu:
- Simple Moving Average (SMA)
Rumus menghitung SMA cukup mudah, yaitu dengan merata-ratakan langsung harga-harga penutupan di hari-hari sebelumnya. - Exponential Moving Average (EMA)
Prinsip dasar EMA ini bobot dari harga hari ini dan kemarin berbeda. Bobot harga lama lebih rendah dibanding harga baru. Karena adanya pembobotan ini, perhitungan EMA lebih rumit. EMA ini lebih banyak digunakan dibandingkan SMA, karena EMA ini lebih sensitif dan dapat memberikan signal lebih cepat dibanding SMA - Displaced Moving Average (DMA)
DMA adalah SMA yang dimajukan. DMA digunakan oleh para trader untuk mengurangi volatilitas harga (whipsaw), sehingga chart lebih smooth. Tapi jujur, DMA ini tidak pernah saya gunakan
Dengan menggunakan contoh data harga saham X, maka DMA(5,close,3) adalah:DMA(5,close,3) = (1940+1920+1900+1850+1870)/5 = 1896
Untuk jenis-jenis MA masih ada beberapa lagi contohnya Double Exponential Moving Average (DEMA), Triple Exponential Moving Average (TEMA), Weighted Moving Average (WMA), dan lain-lain.
Perlu diingat juga bahwa MA ini adalah lagging indicator. Yang dimaksud lagging indicator adalah, signal keluar setelah kejadian telah terjadi. Sehingga MA tidak bisa untuk digunakan untuk prediksi arah market. MA hanya digunakan sebagai referensi untuk pengambilan keputusan berdasarkan penutupan harga saham.
Mengutip dari investopedia.com, definisi lagging indicator adalah:
Technical indicator that trails the price action of an underlying asset and is used by traders to generate transaction signals or to confirm the strength of a given trend. Since these indicators lag the price of the asset, a significant move will generally occur before the indicator is able to provide a signal.
Yang ingin ditekankan adalah pemilihan MA ada di sisi trader, tergantung dari trading plan yang digunakan. Tetapi saya pribadi menggunakan EMA. Tidak masalah MA apa yang digunakan, yang penting dapat memberikan profit konsisten.