How to Trade With MA (1)

Posted on 4th July 2010 in Technical Analysis

Setelah kemarin membahas sekilas mengenai Moving Average di Introduction to Moving Average, sekarang mari belajar untuk trading dengan menggunakan MA. Seperti yang saya sudah singgung di post sebelumnya, MA ini dapat digunakan untuk menentukan support dan resistance, sehingga dapat dijadikan acuan untuk entry dan exit.

Hal terpenting dalam MA adalah menentukan parameter dari MA itu sendiri. Untuk MA yang umum dipakai adalah MA(5) untuk trading jangka pendek, MA(20) untuk trading jangka pendek-menengah, MA(50) untuk trading jangka menengah, MA(100) atau MA(200) untuk trading jangka panjang.

Di bawah ini contoh chart ASII dengan EMA(20).

EMA(20) Pada ASII

EMA(20) Pada PT Astra International, Tbk. (ASII)

Dapat dilihat bahwa garis EMA(20) cukup kuat dalam menjadi support dan resistance.

Untuk penggunaan MA dalam trading cukup simpel, yaitu beli pada saat harga di atas garis MA atau harga menembus resistance, dan jual jika harga di bawah garis MA atau garis support jebol.

Signal EMA(20) pada ASII

Signal EMA(20) pada ASII

Volume transaksi pun sangat berperan dalam validitas indikator MA ini. Penembusan garis MA ini harus diikuti dengan volume yang di atas rata-rata volume transaksi emiten. Jika volume kecil atau tidak signifikan, maka validitas dari indikator MA itu perlu dipertanyakan dan dianalisa lebih lanjut

Sebagai acuan harga, saya menggunakan harga penutupan dari emiten. Sehingga indikator beli atau jual menggunakan MA berdasarkan harga penutupan dari emiten. Untuk tipe chart sendiri, saya menggunakan candlestick. Untuk yang belum tahu cara membaca candlestick, dapat membaca artikel saya Cara Membaca Chart Candle Stick.

Contoh Trading dengan EMA pada ASII

Contoh Trading dengan EMA pada ASII

Berdasarkan indikator EMA(20) pada chart ASII ini, jika disiplin menggunakannya, maka pada tanggal 12 Februari 2010 adalah saatnya untuk beli. Dengan asumsi beli di harga penutupan, maka  harga beli Rp. 35,300. Dan pada tanggal 5 Mei 2010, signal jual muncul. Dengan asumsi jual di harga penutupan, maka harga jual Rp.43,450.

Maka gain yang bisa didapatkan sebesar 43,450-35,300 = Rp. 8,150 atau sekitar 23%

Lumayan khan 23% dalam waktu kurang dari 3 bulan :)

Pada tanggal 27 Mei 2010, ketika ada signal beli, dapat beli kembali.

Jika disiplin dalam penggunakan indikator MA ini, maka kita bisa ride the wave, ikut profit ketika market bullish, dan modal terselamatkan ketika market bearish (dapat dilihat setelah 5 Mei 2010 ketika garis EMA(20) jebol, harga ASII jatuh dalam).

Penentuan parameter dan jenis MA yang cocok untuk sebuah emiten adalah hal yang krusial, dan dalam menentukan parameter ini butuh intuisi. Masing-masing trader dapat mempunya parameter MA yang berbeda-beda satu dengan yang lain untuk suatu emiten. Oleh karena itu banyak kalangan yang berpendapat bahwa trading itu adalah seni, bukan sekedar ilmu pengetahuan.

Salah satu cara yang efektif untuk menentukan MA yang optimal adalah dengan melakukan backtesting. Backtesting adalah proses untuk menguji indikator dengan data-data historis. Dari hasil backtesting, maka dapat diketahui parameter MA berapa yang menghasilkan return yang optimal berdasarkan data-data historis. Backtesting ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti Amibroker, atau Metastock.

Saya sendiri jujur belum pernah melakukan backtesting, karena masih belum mengerti cara melakukan backtesting di Amibroker atau Metastock :)

Oleh karena itu saya menggunakan parameter MA yang umum digunakan seperti EMA(5), EMA(20), EMA(50), EMA(100). Jika saya lihat MA tersebut kurang cocok, maka saya adjust hanya berdasarkan intuisi saja :D

Yah…ingin nih belajar backtesting, tapi udah coba utak-atik, masih belum tahu juga caranya :) Semoga bisa dapat pencerahan deh :)

Perlu diingat bahwa Moving Average (MA) adalah lagging indicator, sehingga “telat” dalam memberikan signal. Biasanya kejadian terjadi terlebih dahulu, baru kemudian muncul signal. Contohnya, signal beli pada 27 Mei 2010, signal baru muncul pada tanggal 27 Mei 2010, padahal reversal sudah terjadi sejak 26 Mei 2010.

Walaupun termasuk golongan lagging indicator, tetapi Moving Average sangat efektif untuk digunakan dalam trading. Biarpun lagging, toh yang penting bisa profit.
Seperti petuah seorang suhu di dunia trading:

Mendingan terlambat daripada ditabrak kereta

Cara Membaca Chart Candle Stick

Posted on 4th July 2010 in Technical Analysis

Saat ini ada banyak tipe-tipe chart yang dapt digunakan untuk trading, salah satunya yang paling populer adalah candle stick. Di tiap candle stick chart ini memuat informasi harga pembukaan, harga penutupan, harga terendah, dan harga tertinggi.

Candlestick Chart

Candlestick Chart

Untuk bentuk dan pola dari candle stick ini ada bermacam-macam, tetapi pada dasarnya terdiri dari 3 macam bentuk candle yaitu:

  1. Bullish candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) > harga pembukaan (opening price). Warna pada badan candle ini biasanya berwarna hijau atau putih.
  2. Bearish candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) < harga pembukaan (opening price). Warna pada badan candle ini biasanya berwarna merah atau hitam.
  3. Doji candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) = harga pembukaan (opening price).

Untuk pola dari candle stick sendiri ada ratusan, yang masing-masing pola dapat memberikan gambaran dari arah market ke depan. Tetapi tidak perlu menghafal semua pola-polanya. Yang terpenting adalah tahu pola-pola penting dari candle stick dan mengerti psikologi dari pola candle stick chart tersebut.

comments: 0 » tags: ,