Perjalanan Menjadi Seorang Trader Sukses

Posted on 13th October 2010 in Stock and Finance

Saya menemukan artikel bagus di Fengchart Blog. Artikel ini menjelaskan bagaimana proses menjadi trader yang sukses. Berikut adalah tahapan-tahapan perjalanan mulai dari pemula sampai menjadi trader sukses.

1. Pre-School:
Dimana-mana, di koran, di TV, di tempat kerja, di cafe… dll. Semua pada ngomongin saham dan reksadana karena profit yang jauh diatas deposito dikarenakan stock market, terutama beberapa saham tertentu yang hangat diperbincangkan. Ekonom dan analis pasar merekomendasikan untuk memilih saham dengan prospek yang luar biasa kedepannya.
Sebagai manusia yang normal dan sehat tentu saja menjadi tertarik untuk ikut-ikutan membeli saham. Mungkin lewat kenalan atau saudara ikut-ikutan main dikit, mungkin numpang account dulu. Mungkin juga profit sedikit karena pas kebetulan masih di bull market. Yang begini naik kelas, yang pas masuknya di bear market putus sekolah dan kapok masuk ke dunia saham lagi.

2. Kelas Junior Trader: (“greed indicator”)
Ternyata beli/jual saham cukup menguntungkan dibandingkan dengan deposito di bank. Dengan semangat tinggi maka mulai buka account sendiri di broker saham bagi yang belum punya sebelumnya. Apalagi dengan fasilitas online trading maka setiap saat pergerakan harga saham dapat dipantau setiap detiknya. Tradingnya masih mengikuti rekomendasi dari para analis dan “FA” (Feeling Analysis). Trading size masih relativ kecil. Di bull market tetap dapet cuan (profit). Perasaan jadi lebih confidence dengan gaya trading ala “FA” nya dan merasa sudah menjadi ahli dalam dunia saham. Pada saatnya bearish market tiba, ternyata nyangkut juga karena belinya pas di harga diujung pohon kelapa. Ada rumors dan news yang super bagus tapi harga turun terus dan portofolio dengan cepatnya merah membara. Dihitung dari modal awal yang terlihat hanya minus sekian persen. Harapan untuk market kembali membaik masih tinggi (masa sih saya salah beli?).
Di kelas ini mulailah timbul pertanyaan, “apa ada ya ilmunya mengenai saham?”
Saatnya naik kelas ke
3. Kelas Nyangkuter: (“fear indicator”)
Sahamnya punya banyak, ruginya bisa sampe 50% atau lebih juga mungkin. Mau Cut-Loss sdh tanggung. Dari sini punya pilihan menjadi

  • Investor “Gadungan” (yg ini dibahasnya 1-10 tahun lagi, not so urgent)
  • Kelas “Nyangkuter Optimis” kalau belum putus asa.

Mulai belajar TA (Technical Analysis), FA (Fundamental Analysis), diskusi, forum dsb.
Ikut workshop, browsing website, kenal TA-Indicators, bisa corat coret chart.
Mulai “PeDe” lagi. Mulai bisa cuan dikit. Saham-2 yang nyangkut mulai berkurang karena berani Cut-Loss. Berkeyakinan punya sistem yang “paten dan tidak bisa LOSS” dan pasti bisa menaklukkan pasar modal. Memandang remeh trader lain yang tidak percaya kepada trading systemnya. Masa depan yang cerah sudah ada didepan mata, profesi tetap hampir ditinggalkan. Kalau bikin prediksi merasa pasti betul karena menurut TA memang harus begitu. Kalau ada yang tidak percaya berani diajak taruhan apa saja. Pas market mendukung, cuan. Bikin testimony dimana mana. Tambah PeDe, Trading size tambah besar, pake full margin. Ternyata…..kena bear market lagi. Saham-2 banyak yang pada nyangkut lagi karena tidak ada istilah cut-loss dalam kamusnya. Cut-Loss berarti mengakui kalau prediksinya ternyata salah.
Masih berharap terus sahamnya bisa rebound lagi ke harga awal, karena di chart-nya begitu.
RESULT: Cuan-Loss=Loss buanyak.
Lulusan kelas ini mendapat ijasah: Nyangkuter Senior

- Yg sudah cape, masih terbuka peluang menjadi “Investor gadungan” (1-10 thn)
- Yang pake margin bisa bangkrut, drop-out sekolahnya, balik lagi menekuni bidang kerjanya.
- Yg masih ada modal dan optimis, bisa naik kelas.
Yang naik kelas ikutan ke Kelas:

4. Trader Junior:
Sudah mengenal Trading plan, tahu Kapan entry dan kapan exit. Juga sudah kenal apa itu Money Management tapi belum tahu bagaimana implementasinya. Trading size tambah besar dan kenal banget dengan semua software, buku dan memperdalam ilmu terus. Bisa cuan tapi masih loss juga karena belum konsisten dengan trading plan dan money management. Buy masih dipengaruhi kalau market lagi naik-naiknya, lihat running trade tidak tahan, terus beli di harga paling atas.
RESULT: masih loss tapi sangat optimis karena tahu dimana letak kesalahannya. Kalau masih ada modal bisa naik kelas, yg udah abis dipaksa drop-out -> kerja lagi ke profesi awal kalau sebelumnya sudah berhenti.

5. Trader Senior:
Disini sekolahnya lama dan sangat melelahkan. Yang putus asa atau abis modal masih ada alternativ jadi “investor gadungan” atau drop-out juga.
Belajar menentukan timing tepat Entry dan Exit dan tidak terpengaruh dengan emosi (tetap pasti ada sih, namanya juga manusia…) dan mulai dapat konsisten dengan trading plan dan money management. Sadar kalau market itu tidak harus sesuai arah dengan hasil analisanya. Chart hanya dipakai sebagai alat bantu untuk trading plan secara konsisten, tapi tetap jaga-jaga (emergency plan) kalau ternyata market tidak sesuai dengan TA nya. Mulai memperhatikan FA dan event-2 penting (trend global, regional market, cum devident, laporan keuangan, pengumuman macro economic spt. Inflasi, interest rate dsb.) yang mempengaruhi harga saham.
RESULT: tradingnya ada yg rugi dan ada yg cuan, tapi hasil totalnya ternyata CUAN ! atau Tidak Rugi di Market yg lagi bearish kalau Loss juga terbatas

Yang bisa lulus dapat sertifikat:
6. Successful Trader
Greed dan Fear sudah bisa balance. Seperti orang naik sepeda, untuk bisa harus belajar dulu, tidak bisa hanya dengan teori atau ikutan workshop saja sudah terus bisa keenakan naik sepeda (“greed”?) tapi harus praktek juga bersama dengan jatuh bangun dan babak belurnya (kenal “fear”). Asal jangan sampai … KO saja. Kalau sudah bisa naik sepeda, semua teori tentang balancing, rem, kecepatan, gimana kalau ada bahaya/mobil, nyebrang jalan dsb., sudah menjadi otomatis dan dalam situasi bahaya bisa cepat bertindak dengan benar, sehingga bisa sampai dengan cepat dan selamat.
RESULT: tetap ada trading yg rugi dan cuan, tapi di portofolio asetnya mulai bertambah.
AWAS KOMPLIKASI: menjadi hebat, merasa punya sistem trading yang paling hebat dan selalu profit di segala situasi market. Padahal, keberhasilan trading sistem sangat tergantung dengan karakteristik stock market saat itu dan selalu berkembang. Sehingga sebagai trader harus juga secara terus-menerus mengembangkan kemampuan untuk membaca situasi market (bullish, bearish, side-ways) sehingga bisa menerapkan strategi yang sesuai dengan kondisi marketnya.
PS: semoga kita bisa melalui cobaan di kelas 1-6 sehingga lulus menjadi Successful Trader… Amen….

comments: 0 »

Setting Up Environment For CakePHP

Posted on 13th October 2010 in Teknologi Informasi

Sekilas mengenai CakePHP, CakePHP adalah MVC (Model View Controller) framework berbasis PHP yang sangat mudah digunakan. CakePHP sangat membantu programmer dalam membangun sebuah website, mulai dari yang sangat simple, sampai ke website yang sangat rumit sekalipun. Saking mudah dan cepatnya membuat website dengan menggunakan CakePHP, sehingga CakePHP dikenal sebagai Rapid Application Development (RAD) Framework. Untuk environment nya, dibutuhkan:

  1. Web Server
  2. PHP Engine
  3. Database Server

Untuk database server yang disupport CakePHP adalah:

  • MySQL
  • SQLite
  • PostgreSQL
  • MS SQL
  • DB2
  • Oracle
  • Firebird
  • Sybase

Untuk memudahkan, dapat digunakan bundled software seperti XAMPP (dapat didownload di sini. XAMPP sudah menyediakan Apache Web Server, PHP, dan MySQL di dalam packagenya, sehingga kita tidak perlu repot-repot lagi menginstallnya satu-persatu (bahkan XAMPP juga menyediakan SQLite sebagai alternatif database). Setelah XAMPP terinstall, kita lanjutkan dengan mendownload CakePHP frameworknya yang tersedia di sini (disarankan untuk menggunakan versi 1.2.x.x karena di versi tersebut, banyak fitur-fitur menarik yang tidak ditemukan di versi 1.1.x.x). Setelah CakePHP telah selesai didownload, step-step yang diperlukan selanjutnya adalah:

  1. extract file hasil download (karena hasil download biasanya berupa compressed file), lalu copy folder hasil extract ke [xampp_home_folder]/htdocs.
  2. Edit file httpd.conf yang terletak di [xampp_home_folder]/apache/conf/httpd.conf.Pastikan module mod_rewrite dalam keadaan aktif (tidak ada tanda comment di awal baris)

    LoadModule rewrite_module modules/mod_rewrite.so

  3. Set up database (Optional)Agar CakePHP dapat berkoneksi dengan database, maka kita perlu membuat file database.php. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:
    • Copy file database.php.default, dan paste file tersebut di dalam folder yang sama, lalu rename file tersebut menjadi database.php
    • Edit file database.php sesuai dengan konfigurasi database server yang sudah ada.Contohnya jika ingin melakukan koneksi dengan database server MySQL dengan username ‘root’, password ‘test1234′, dan nama database yang digunakan adalah ‘cake’, maka konfigurasinya seperti ini:

var $default = array(‘driver’ => ‘mysql’, ‘persistent’ => false, ‘host’ => ‘localhost’, ‘login’ => ‘root’, ‘password’ => ‘test1234′, ‘database’ => ‘cake’, ‘prefix’ => ”);

Setelah langkah-langkah diatas sudah dijalankan, buka browser dan browse ke url http://[nama-site]/[nama_folder_hasil_extract]. Contohnya:

http://localhost/cake

Jika setting berhasil, maka akan tampak welcome page dari cakePHP yang menampilkan status konfigurasi dari cakePHP. Jika semua status sudah oke, maka cakePHP sudah siap dijalankan. Selamat berCakePHP ria!!!

comments: 0 » tags:

Naming Convention on CakePHP

Posted on 13th October 2010 in Teknologi Informasi

Salah satu filosofi dari cakePHP adalah meminimalisasi jumlah baris coding, dan effort yang dibutuhkan untuk melakukan konfigurasi. Hal inilah yang membedakan cakePHP dengan beberapa framework PHP lainnya.

Untuk mencapai hal tersebut, cakePHP memiliki naming convention untuk diikuti. Mengikuti naming convention ini tidaklah diharuskan, tetapi hal ini sangat disarankan untuk bisa menggunakan fitur-fitur dari CakePHP dengan maksimal. Dengan mengikuti naming convention dari CakePHP, effort dan waktu yang dibutuhkan untuk membangun website akan jauh lebih sedikit. Therefore just follow the naming convention, and let CakePHP do the dirty works.

Beberapa naming-naming convention yang perlu diperhatikan dari CakePHP adalah sebagai berikut:

  • Nama dari database table harus menggunakan kata jamak (plural), dan jika nama table terdiri dari 2 (dua) nama maka harus menggunakan karakter ‘_’ contohnya: customers, books, authors, line_items.
  • Jika menggunakan join table, maka penamaannya berdasarkan alphabetical order dengan karakter ‘_’ sebagai pemisah. Contohnya: authors_books; bukan books_authors.
  • Tiap table harus memiliki field id.
  • Optional: tiap table memiliki field created, dan updated. Field ini optional, yang tidak akan mengganggu kinerja dari CakePHP jika field tersebut tidak dibuat. Jika field-field tersebut tersedia di dalam table, maka CakePHP akan mengisinya secara otomatis setiap kali ada operasi create atau update.
  • Nama file dari Model yang berkorelasi dengan table harus menggunakan kata tunggal (singular), contohnya: customer.php, book.php, author.php, line_item.php.
  • Nama class dari Model yang berkolerasi dengan table harus menggunakan kata tunggal (singular) dengan penamaan CamelCase. Contohnya: Customer, Book, Author, LineItem.
  • Nama file dari Controller yang berkolerasi dengan table harus menggunakan kata jamak (plural) dengan menggunakan karakter ‘_’ sebagai pemisah. Contohnya: customers_controller.php, books_controller.php, line_items_controller.php.
  • Nama class dari Controller yang berkolerasi dengan table harus menggunakan kata jamak (plural) dengan penamaan CamelCase dan diakhiri dengan kata Controller. Contohnya: CustomersController, BooksController, AuthorsController, LineItemsController.

Dengan mengikuti naming convention, maka banyak hal yang bisa diotomatisasi, dan banyak fitur yang bisa digunakan, salah satunya adalah Bake Code Generator. Mengenai Bake Code Generator, mungkin akan saya bahas nanti. Selamat bercoding ria

comments: 0 » tags:

Creating A Simple Database Application Using CakePHP in 5 Minutes

Posted on 13th October 2010 in Teknologi Informasi

Judul diatas bukanlah kalimat omong kosong, kata-kata sesumbar, atau hanya mungkin dilakukan oleh programmer profesional dan berpengalaman. Hal diatas mungkin dilakukan bahkan oleh pemula sekalipun. Itu mungkin dilakukan dengan adanya fitur scaffold yang tersedia di CakePHP. Sebagai contoh, kita akan membuat suatu sistem sederhana yang dapat melakukan operasi create, retrieve, update, delete. Contoh dibawah ini dibuat dengan menggunakan MySQL sebagai database servernya. Langkah pertama adalah membuat database untuk sistem ini.

create database `library`

Setelah database sudah dibuat, langkah kedua adalah membuat tablenya.

CREATE TABLE `customers` (
`id` int(11) NOT NULL auto_increment,
`nomor_anggota` varchar(255) NOT NULL,
`nama` varchar(255) default NULL,
`alamat` varchar(255) default NULL,
`telpon` varchar(255) default NULL,
`created` datetime default NULL,
`updated` datetime default NULL,
PRIMARY KEY  (`id`),
UNIQUE KEY `nomor` (`nomor_anggota`)
)

Langkah ketiga adalah mengkonfigurasi koneksi databasenya dengan mengedit file yang terdapat di /app/config/database.php. Contoh konfigurasinya:

var $default = array(
‘driver’ => ‘mysql’,
‘persistent’ => false,
‘host’ => ‘localhost’,
‘login’ => ‘root’,
‘password’ => ‘passsword1234′,
‘database’ => ‘library’,
‘prefix’ => ”,
);

Sebelum melanjutkan langkah-langkah selanjutnya, saya akan menjelaskan sekilas mengenai CakePHP. CakePHP adalah framework yang didesain mengikuti pattern-pattern (best practice dari system design), salah satunya adalah MVC (Model-View-Controller) pattern, dan CakePHP adalah framework yang sangat ketat dalam hal design MVC nya, sehingga kita harus mengikuti prinsip MVC jika ingin menggunakan CakePHP secara maksimal. Keterangan lebih lanjut mengenai Model-View-Controller bisa dilihat di sini. Langkah keempat adalah membuat Modelnya. Buat file baru bernama Customer.php dan simpan file tersebut di directory /app/models. Isi file dari tersebut adalah seperti di bawah ini:

<?php
class Customer extends AppModel {
var $name = ‘Customer’;
}
?>

Langkah selanjutnya adalah membuat Controllernya. Buat file baru bernama customers_controller.php dan simpan file tersebut di directory /app/controller. Isi file dari tersebut adalah seperti di bawah ini:

<?php
class CustomersController extends AppController {
var $name = ‘Customers’;
var $scaffold;
}
?>

Selanjutnya buka browser, lalu browse ke http://[nama_server]/[nama_folder_cakePHP]/customers. Contohnya http://localhost/cake/customers. Jika berhasil, maka sudah terbuat sistem sederhana yang bisa melakukan operasi create, retrieve, update, delete. Bahkan untuk list tablenya sudah ada pagination, sorting (jika judul kolomnya diklik, maka data akan diurutkan berdasarkan kolom tersebut), dan operasi-operasi update dan delete untuk tiap barisnya. Semuanya ini dimungkinkan dengan perintah scaffold. Hanya saja penggunaan scaffold ini tidak disarankan untuk sistem yang rumit karena kurangnya fleksibilitas. Selamat ber CakePHP ria :D

comments: 0 »

Cara Memasukkan Data Intraday JSX ke Ami Broker

Posted on 13th October 2010 in Stock and Finance

Karena banyak yang belum tahu, jadi sengaja saya buat tutorial untuk memasukkan data intraday Jakarta Stock Exchange ke dalam Amibroker.

Untuk datanya, bisa diambil di http://www.yungdarius.com

Oke, untuk langkah pertama, download dahulu datanya, lalu buka Amibroker nya (tentunya dong :D )

Lalu di menubar, pilih file -> new -> database
file -> new -> database

Lalu akan muncul pop up window seperti ini:
pop up window

Masukkan nama database yang ingin dibuat, lalu klik tombol Create.

Jika berhasil, window akan menjadi seperti yang di bawah ini:

Lalu klik tombol OK.

Langkah selanjutnya adalah pilih menu file -> import wizard…

Maka akan muncul window seperti dibawah ini:

Klik tombol Pick Files, lalu pilih data yang sudah didownload tadi (disini untuk contohnya, saya menggunakan data 18 November 2009)

Setelah klik tombol Next, langkah selanjutnya ikuti konfigurasi seperti di bawah ini:

Setelah dikonfigurasikan, klik tombol Next, lalu beri nama untuk format yang baru saja kita buat, lalu klik tombol Finish

Kita sudah berhasil membuat konfigurasi importnya. Selanjutnya kita tinggal memasukkan datanya dengan cara memilih menu file -> import ASCII

Itu sekilas cara memasukkan data intraday JSX ke Amibroker.
Mudah-mudahan cukup jelas.

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan komentar anda disini.

Incremental Approach for System Development

Result Driven Incremental Methodology

Posted on 13th October 2010 in Teknologi Informasi

Dalam melakukan deployment suatu sistem, maka diperlukan metodologi untuk membantu kelancaran fase deployment dalam proyek pengembangan sistem. Salah satu metodologi yang cukup handal adalah metodologi Result-Driven Incremental.

Incremental Approach for System Development

Incremental Approach for System Development

Keunggulan dari pendekatan ini adalah, sistem dapat diimplementasikan dengan cepat, dan dapat dibuat sebuah pilot system. Pilot system ini sangat berguna untuk mengukur respons dari para staff akan  System baru, dan untuk mengukur efektifitas kehadiran sebuah System baru di dalam perusahaan. Selain itu, dengan incremental approach ini, System dapat terus berkembang seiring dengan datangnya kebutuhan-kebutuhan baru akan System di perusahaan. Incremental Approach memungkinkan berjalannya proses parallel antara proses pengembangan (development) dan sertifikasi (certification) (Wohlin, 1995). Yang dimaksud dengan proses sertifikasi (certification) disini adalah pemenuhan semua kriteria dari quality control.

Bibliography

Wohlin, C. (1995). Improving through an Incremental Approach. Proceedings 2nd European Industrial Symposium on Cleanroom Software Engineering .

comments: 0 »

Kategori Knowledge

Posted on 13th October 2010 in Knowledge Management

Kategori Knowledge menurut Amrit Tiwana (Tiwana, 1999):

1.      Core Knowledge:

Pengetahuan dasar yang dimiliki semua pesaing, menciptakan penghalang untuk masuknya pesaing baru. Walaupun tidak memberikan pembeda terhadap pesaing, namun pengetahuan dasar ini harus dimiliki oleh perusahaan.

2.      Advanced Knowledge

Pengetahuan yang lebih maju yang dapat membuat perusahaan lebih kompetitif, memberikan daya pembeda pada produk terhadap pesaing melalui penerapan pengetahuan yang lebih unggul dalam bidang tertentu.

3.      Innovative Knowledge

Pengetahuan inofatif yang membuat perusahaan dapat memimpin persaingan secara menyeluruh dan bahkan dapat mengubah  persaingan (menjadi trend-setter).

Bibliography

Tiwana, A. (1999). The Knowledge Management Toolkit. Prentice Hall.

comments: 0 » tags:

Memperkuat Leadership dalam Proyek Knowledge Management

Posted on 13th October 2010 in Knowledge Management

Langkah-langkah dalam menjalankan dan memperkuat leadership dalam sebuah implementasi Knowledge Management adalah (Kotter, 1998):

1.      Membangun perasaaan pentingnya KM pada stakeholder

  • Mengidentifikasi akar masalah, keperluan bisnis dan peluang yang ada

2.      Membentuk koalisi yang kuat

  • Membuat sebuah tim yang kuat untuk mengadakan perubahan
  • Mendorong kelompok bekerja sebagai tim

3.      Membuat Visi

  • Membuat visi untuk mengarahkan perubahan
  • Menentukan strategi untuk mencapai visinya

4.      Mengkomunikasikan visi

  • Gunakan setiap hal (kendaraan) untuk mengkomunikasikan visi dan strategi
  • Mengajarkan perilaku dengan menjadi contoh

5.      Mendorong yang lain untuk bertindak sesuai dengan visi

  • Menghilangkan halangan yang merintangi visi
  • Merubah sistem atau struktur yang menghalangi terjadinya perubahan
  • Mendorong untuk mengambil resiko, hal yang tidak biasa, dan melakukannya

6.      Merencanakan dan membuat target jangka pendek

  • Merencanakan kinerja yang dapat diukur
  • Menciptakan improvement
  • Menerapkan sistem reward bagi yang terlibat dalam improvement

7.      Terus mengembangkan improvement

  • Evaluasi sistem dengan merubah, membuat aturan-aturan baru untuk meningkatkan kredibilitas sistem
  • Mengangkat, mempromosi, dan mengembangkan karyawan yang mendukung perubahan dan berjalan sesuai dengan visi

8.      Memasukkan KM kedalam culture perusahaan

  • Mengartikulasikan perilaku baru dengan keberhasilan organisasi

Bibliography

Kotter, J. P. (1998). Leader to Leader. A publication of the Drucker Foundation and Jossey-Bass, Inc., Publishers.

comments: 0 » tags:

Mengawal Perubahan akibat Knowledge Management

Posted on 13th October 2010 in Knowledge Management

Untuk perusahaan dapat dengan mulus melakukan transformasi dalam bisnisnya, perusahaan perlu untuk menerapkan change management dalam perusahaannya. Change Management ini berisi panduan-panduan dan strategi-strategi bagi perusahaan untuk melakukan transformasi bisnis dalam perusahaannya, termasuk mengelola aspek-aspek manusia seperti mengatasi penolakan-penolakan dari para karyawan. Change Management tidak berfokus pada hal-hal apa yang harus diubah (BPI Solution), tetapi lebih berfokus kepada bagaimana cara solusi perubahan tersebut dilakukan (Harrington, Conner, & Horney, 2000). Beberapa proses untuk melakukan Change Management menurut Harrington (2000), adalah:

  • Membangun arsitektur implementasi
  • Mengelola penolakan individual pada perubahan
  • Membangun komitmen individual pada perubahan
  • Mengelola aspek budaya pada perubahan
  • Memilih dan mengimplementasikan change agents

Langkah-langkah untuk dapat melakukan change management untuk transformasi bisnis adalah sebagai berikut:

a. Stakeholder profiles

Sebuah stakeholder profile adalah pengelompokan dari individu, peranan, posisi pekerjaan, atau organizational unit yang terkena dampak dalam penerapan KM. Membuat profil seperti ini akan memudahkan dalam membuat sebuah strategi yang terbaik untuk memanage perubahan di masing-masing kelompok. Stakeholder profile dibuat setelah review dan analisa yang hati-hati dari informasi yang didapat pada proses Input diatas. Masing-masing profil ini akan menggambarlan bagaimana setiap grup stakeholder akan mempengaruhi perubahan atau dipengaruhi perubahan, tergantung dalam pengelompokan profil. Hanya ada dua kategori profil yaitu sponsor/adavocate/change agent dan target profil. Peranan dapat diilustrasikan dengan melakukan mapping yang diterapkan pada masing-masing individu seperti:

  • Initiating sponsor
  • Sustaining sponsor
  • Change sponsor
  • Change agent
  • Target
  • Advocate

b. Commitment Continuum

Setiap profil stakeholder perlu mencapai level dari komitmen agar proyek dapat berhasil. Tim memperkirakan seberapa komitmen dari tiap profil stakeholder yang diperlukan agar implementasi berhasil:

· Pada awal Build phase

· Pada awal Test phase

· Pada awal Deploy phase

Beberapa level dari Komitment dengan yang paling bawah adalah contact dan yang tertinggi adalah Internalization.

Untuk mendapatkan komitmen tersebut dari para stakeholder, sangatlah penting untuk terlebih dahulu untuk mendapatkan komitmen dari pihak top management. Karena jika komitmen dan dukungan penuh telah didapatkan dari pihak top management, khususnya pimpinan perusahaan (CEO), maka untuk mendapatkan komitmen dari para karyawan lainnya akan menjadi lebih mudah. Selain itu, dengan adanya komitmen dan dukungan penuh dari pimpinan perusahaan, maka perubahan pun dapat dilakukan lebih mulus.

c. Profile Strategies

Profile strategis dan aktivitas taktis berbeda terhadap dua kategori profile.

1. Sponsor/Advocate/Change agent

Profil inilah yang pertama diperlakukan untuk membangun komitmen dalam proyek. Fokus strategi pada profil ini adalah mengeksekusi perpindahan organisasi mereka kedalam suatu lokasi baru dari level komitmen yang diharapkan. Strategi akan dibentuk berdasarkan orang-orang dalam grup ini akan menerima perubahan sejalan dengan kemauan mereka untuk berubah. Strategi yang diterapkan meliputi hal dibawah ini:

· Stakeholder profile name. Nama profil dari kelompok.

· Description of the stakeholder profile. Mendefinisikan karakteristik kelompok ini.

· Involvement strategy. Strategi untuk membuat kelompok stakeholder ini terlibat, siaga, dan terdidik yang berkaitan dengan pernanan mereka dalam proses perubahan.

· Key activities with timeline. Strategi untuk melibatkan mereka secara taktis, termasuk lima atau enam event kunci untuk grup ini.

2. Target Profile

Strategi dari kelompok target profil ini adalah untuk membuat grup ini terus bergerak ke level komitmen yang lebih tinggi selama penerapan proyek. Strategi didesain berdasarkan training/pendidikan, komunikasi, keterlibatan agar target stakeholder ini dapat mencapai level komitmen yang tepat untuk perubahan.

d. Tactical Plans

Setelah strategi dan aktifitas taktis ditentukan untuk setiap profil stakeholder, maka eksekusi dimulai. Juga dilakukan hal berbeda untuk kedua kelompok profile. Untuk Sponsor/advocate/change agent, tim mempunyai tanggung jawab utama untuk mengeksekusi aktifitas taktis, terutama untuk kemunikasi, pendidikan, dan kerterlibatan tiap-tiap anggota tim dan menjadi rekan koordinasi tim. Sedangkan untuk Target profiles, deployment manager akan bertanggungjawab untuk mereview strategi dan aktifitas yang telah dibuat, menyesuaikan strategi ini sehingga cocok untuk kelompok ini untuk mencapai kesuksean yang diharapkan.

e. Feedback

Diperlukan feedback untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa semua yang telah direncanakan berjalan dengan baik. Beberapa hal untuk melakukan feedback adalah:

· Evaluasi dari kejadian nyata di lapangan

· Mengukur target dari sebuah aktifitas apakah sesuai jadwal, tujuan dan lainya.

· Menggunakan tools untuk evaluasi seperti kuisioner, survey dan sebagainya

Bibliography

Constantinescu, M. (2008). Knowledge Management and Business Process Reengineering for Business Performance Improvement.

Grant, R. (1996). Toward a knowledge-based view of the firm. Strategic Management Journal , 17, 109-122.

Harrington, H. J., Conner, D. R., & Horney, N. L. (2000). Project Change Management: Applying Change Management to Improvement Projects. McGraw-Hill.

Hsu, H. S., & Mykytyn Jr., P. P. (2006). Intellectual Capital. Encyclopedia of Knowledge Management , 274-280.

Jones, N. B., & Gupta, J. N. (2005). Small Business Transformation Through Knowledge Management. Encyclopedia of Information Science and Technology, , 5, 2154-2518.

Spencer, J. (1996). Making knowledge the basis of a dynamic theory of the firm. Strategic Management Journal , 17, 45-62.

Wigg, K. (2004). People-Focused Knowledge Management: How Effective Decision Making Leads to Corporate Success. Butterworth–Heinemann publications.

Untuk perusahaan dapat dengan mulus melakukan transformasi dalam bisnisnya, perusahaan perlu untuk menerapkan change management dalam perusahaannya. Change Management ini berisi panduan-panduan dan strategi-strategi bagi perusahaan untuk melakukan transformasi bisnis dalam perusahaannya, termasuk mengelola aspek-aspek manusia seperti mengatasi penolakan-penolakan dari para karyawan. Change Management tidak berfokus pada hal-hal apa yang harus diubah (BPI Solution), tetapi lebih berfokus kepada bagaimana cara solusi perubahan tersebut dilakukan (Harrington, Conner, & Horney, 2000). Beberapa proses untuk melakukan Change Management menurut Harrington (2000), adalah:

1. Membangun arsitektur implementasi

2. Mengelola penolakan individual pada perubahan

3. Membangun komitmen individual pada perubahan

4. Mengelola aspek budaya pada perubahan

5. Memilih dan mengimplementasikan change agents

Langkah-langkah untuk dapat melakukan change management untuk transformasi bisnis adalah sebagai berikut:

a. Stakeholder profiles

Sebuah stakeholder profile adalah pengelompokan dari individu, peranan, posisi pekerjaan, atau organizational unit yang terkena dampak dalam penerapan KM. Membuat profil seperti ini akan memudahkan dalam membuat sebuah strategi yang terbaik untuk memanage perubahan di masing-masing kelompok. Stakeholder profile dibuat setelah review dan analisa yang hati-hati dari informasi yang didapat pada proses Input diatas. Masing-masing profil ini akan menggambarlan bagaimana setiap grup stakeholder akan mempengaruhi perubahan atau dipengaruhi perubahan, tergantung dalam pengelompokan profil. Hanya ada dua kategori profil yaitu sponsor/adavocate/change agent dan target profil. Peranan dapat diilustrasikan dengan melakukan mapping yang diterapkan pada masing-masing individu seperti:

· Initiating sponsor

· Sustaining sponsor

· Change sponsor

· Change agent

· Target

· Advocate

b. Commitment Continuum

Setiap profil stakeholder perlu mencapai level dari komitmen agar proyek dapat berhasil. Tim memperkirakan seberapa komitmen dari tiap profil stakeholder yang diperlukan agar implementasi berhasil:

· Pada awal Build phase

· Pada awal Test phase

· Pada awal Deploy phase

Beberapa level dari Komitment dengan yang paling bawah adalah contact dan yang tertinggi adalah Internalization, yaitu:

Figure 1.7. Commitment Continuum

Untuk mendapatkan komitmen tersebut dari para stakeholder, sangatlah penting untuk terlebih dahulu untuk mendapatkan komitmen dari pihak top management. Karena jika komitmen dan dukungan penuh telah didapatkan dari pihak top management, khususnya pimpinan perusahaan (CEO), maka untuk mendapatkan komitmen dari para karyawan lainnya akan menjadi lebih mudah. Selain itu, dengan adanya komitmen dan dukungan penuh dari pimpinan perusahaan, maka perubahan pun dapat dilakukan lebih mulus.

c. Profile Strategies

Profile strategis dan aktivitas taktis berbeda terhadap dua kategori profile.

1. Sponsor/Advocate/Change agent

Profil inilah yang pertama diperlakukan untuk membangun komitmen dalam proyek. Fokus strategi pada profil ini adalah mengeksekusi perpindahan organisasi mereka kedalam suatu lokasi baru dari level komitmen yang diharapkan. Strategi akan dibentuk berdasarkan orang-orang dalam grup ini akan menerima perubahan sejalan dengan kemauan mereka untuk berubah. Strategi yang diterapkan meliputi hal dibawah ini:

· Stakeholder profile name. Nama profil dari kelompok.

· Description of the stakeholder profile. Mendefinisikan karakteristik kelompok ini.

· Involvement strategy. Strategi untuk membuat kelompok stakeholder ini terlibat, siaga, dan terdidik yang berkaitan dengan pernanan mereka dalam proses perubahan.

· Key activities with timeline. Strategi untuk melibatkan mereka secara taktis, termasuk lima atau enam event kunci untuk grup ini.

2. Target Profile

Strategi dari kelompok target profil ini adalah untuk membuat grup ini terus bergerak ke level komitmen yang lebih tinggi selama penerapan proyek. Strategi didesain berdasarkan training/pendidikan, komunikasi, keterlibatan agar target stakeholder ini dapat mencapai level komitmen yang tepat untuk perubahan.

d. Tactical Plans

Setelah strategi dan aktifitas taktis ditentukan untuk setiap profil stakeholder, maka eksekusi dimulai. Juga dilakukan hal berbeda untuk kedua kelompok profile. Untuk Sponsor/advocate/change agent, tim mempunyai tanggung jawab utama untuk mengeksekusi aktifitas taktis, terutama untuk kemunikasi, pendidikan, dan kerterlibatan tiap-tiap anggota tim dan menjadi rekan koordinasi tim. Sedangkan untuk Target profiles, deployment manager akan bertanggungjawab untuk mereview strategi dan aktifitas yang telah dibuat, menyesuaikan strategi ini sehingga cocok untuk kelompok ini untuk mencapai kesuksean yang diharapkan.

e. Feedback

Diperlukan feedback untuk mengevaluasi dan memastikan bahwa semua yang telah direncanakan berjalan dengan baik. Beberapa hal untuk melakukan feedback adalah:

· Evaluasi dari kejadian nyata di lapangan

· Mengukur target dari sebuah aktifitas apakah sesuai jadwal, tujuan dan lainya.

Menggunakan tools untuk evaluasi seperti kuisioner, survey dan sebagainya

comments: 0 » tags:

Dampak Knowledge Management bagi Perusahaan

Posted on 13th October 2010 in Knowledge Management

Menurut Stewart (1997), Intellectual Capital didefinisikan sebagai materi intelektual-pengetahuan, informasi, properti intelektual, dan pengalaman-yang dapat digunakan untuk menciptakan kekayaan. Intellectual Capital yang merupakan penentu utama kinerja bisnis dan kerangka kerja konseptualnya mengidentifikasi modal manusia (human capital) yang mewakili keahlian yang dimiliki oleh sumber daya manusia dari perusahaan, modal structural (structural capital) yang mewakili asset-asset yang dimiliki perusahaan seperti system dan properti intelektual, dan modal relasional (relational capital) yang mewakili hubungan perusahaan dengan pihak external perusahaan sebagai variabel yang mendukung (Hsu & Mykytyn Jr., 2006).

Menurut hasil penelitian mengenai Knowledge Management, para peneliti berargumen bahwa Knowledge Management memiliki peran strategis dalam membantu perusahaan untuk meningkatkan performa bisnisnya (Spencer, 1996). Knowledge Management telah diajukan sebagai sebuah proses strategis mendasar dan satu-satunya yang memberikan competitive advantage yang terus berkelanjutan bagi perusahaan (Grant, 1996). Knowledge Management digambarkan sebagai strategi kunci untuk membuat dan mempertahankan perusahaan yang cerdas, yang mampu mengatasi pesaing-pesaingnya (Jones & Gupta, 2005).

Menurut Karl Wigg (Wigg, 2004), ada 4 faktor untuk menentukan tingkat pengetahuan yang perlu dimiliki perusahaan, agar suatu perusahaan untuk dapat bersaing di era ekonomi global ini, yaitu:

  1. Level dan kompleksitas dari pengetahuan dan pengertian yang dibutuhkan untuk mengerjakan kegiatan operasional perusahaan sehari-hari.
  2. Level keahlian yang dibutuhkan seorang karyawan dalam menyelesaikan masalah dari kejadian-kejadian yang tidak terduga, contohnya tingkat keahlian seorang pilot pesawat terbang dalam mengendalikan pesawat di tengah-tengah keadaan cuaca yang tidak menentu.
  3. Tingkat keparahan dan konsekuensi dari kesalahan-kesalahan kerja yang mungkin terjadi.
  4. Kecepatan dalam bertindak dan menyelesaikan masalah.

Keuntungan-keuntungan yang diharapkan dalam penerapan KM pada perusahaan menurut Santosus and Surmacz (2001) adalah:

  • Meningkatkan inovasi dengan mendorong keluarnya ide-ide baru
  • Meningkatkan service kepada pelanggan dengan menyingkatkan response time
  • Meningkatkan pendapatan dengan menempatkan produk dan jasa lebih cepat ke dalam pasar
  • Meningkatkan tingkat retensi karyawan dengan mengenali nilai dari karyawan
  • Mengurangi operator dan menekan biaya dengan menghilangkan biaya yang tidak perlu
  • Meningkatkan efisiensi
  • Meningkatkan posisi dalam pasar dengan lebih cerdas dalam pasar
  • Meningkatkan keberlangsungan perusahaan
  • Meningkatkan profit perusahaan
  • Mengoptimalkan interaksi antara R&D dengan marketing
  • Meningkatkan persaingan kelompok
  • Membuat karyawan professional semakin efisien dan efektif
  • Menyediakan dasar yang lebih baik dalam pembuatan keputusan seperti membuat atau membeli teknologi maupun merger
  • Meningkatkan komunikasi antar pekerja
  • Meningkatkan sinergi antar pekerja
  • Memastikan pekerja (knowledge worker) tinggal dalam perusahaan
  • Membuat perusahaan focus pada core business dan knowledge penting dalam perusahaan.

Berdasarkan keuntungan-keuntungan yang telah disebutkan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa Intellectual Capital memiliki peranan yang sangat penting bagi perusahaan dalam menghasilkan keuntungan. Intellectual Capital menjadi asset yang sangat penting bagi perusahaan sebagai modal untuk bersaing dengan para kompetitor di pasar global. Oleh karena itu Intellectual Capital di dalam perusahaan harus dikelola dengan sebaik-baiknya dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mencetak keuntungan. Selain itu, posisi Knowledge Management di perusahaan pun dapat disimpulkan memegang peranan strategis dalam perusahaan, karena Knowledge Management dapat menjadi salah satu competitive advantage perusahaan yang terus bertumbuh secara berkelanjutan.

Bibliography

Constantinescu, M. (2008). Knowledge Management and Business Process Reengineering for Business Performance Improvement.

Grant, R. (1996). Toward a knowledge-based view of the firm. Strategic Management Journal , 17, 109-122.

Harrington, H. J., Conner, D. R., & Horney, N. L. (2000). Project Change Management: Applying Change Management to Improvement Projects. McGraw-Hill.

Hsu, H. S., & Mykytyn Jr., P. P. (2006). Intellectual Capital. Encyclopedia of Knowledge Management , 274-280.

Jones, N. B., & Gupta, J. N. (2005). Small Business Transformation Through Knowledge Management. Encyclopedia of Information Science and Technology, , 5, 2154-2518.

Spencer, J. (1996). Making knowledge the basis of a dynamic theory of the firm. Strategic Management Journal , 17, 45-62.

Wigg, K. (2004). People-Focused Knowledge Management: How Effective Decision Making Leads to Corporate Success. Butterworth–Heinemann publications.