Dengan adanya perubahan ekonomi secara global, perusahaan dituntut untuk terus berkembang. Saat ini konsumen telah lebih pintar dan menuntut lebih banyak, peluang networking dengan perusahaan-perusahaan lain lebih terbuka lebar, dan perusaingan usaha semakin ketat. Oleh karena itu, perusahaan harus memiliki kemampuan untuk dapat beradaptasi dengan cepat, agar dapat menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi di lingkungan external dengan sangat pesat. Kemampuan untuk membangun strategi perubahan sangat diperlukan oleh perusahaan di dalam lingkungan global baru yang kompetitif dan digital (Harrington, Conner, & Horney, 2000). Untuk dapat bertahan dan sukses dalam persaingan, kebanyakan perusahaan dituntut untuk dapat menyesuaikan kegiatan dalam perusahaan kepada situasi-situasi unik (Wigg, 2004).
Agar dapat menyesuaikan diri dengan cepat, maka perusahaan perlu mengubah paradigma lama. Mereka harus dapat bertindak efektif dan pintar dalam menghadapi sebuah masalah. Mereka harus dengan cepat berinovasi dan mengeluarkan ide-ide baru untuk dapat bersaing di pasar global yang sangat ketat. Perusahaan dituntut untuk bertindak cepat dalam menangani segala situasi yang dapat merusak nama baik perusahaan.
Selain itu, perusahaan juga perlu untuk meningkatkan produktivitasnya agar dapat memenuhi kebutuhan pasar global yang sangat besar, dan agar dapat bersaing dengan perusahaan lain. Peningkatan produktivitas mengarah ke standar hidup yang lebih baik, dan peningkatan kemampuan untuk bersaing memastikan bahwa organisasi akan bertahan untuk menyediakan masa depan yang aman bagi karyawannya (Constantinescu, 2008).
Menurut Harrington (2000), sebuah organisasi yang baik, perlu dengan efektif dapat mengakomodir hal-hal berikut:
- Membuat strategi untuk memecah pasar massal (mass market) menjadi pasar-pasar kecil (niche market
- Bersaing dengan memenuhi dan memperhatikan nilai-nilai yang diharapkan oleh konsumen.
- Memproduksi dengan massal produk dan jasa yang ditawarkan perusahaan sesuai dengan jumlah permintaan pasar.
- Membangun solusi secara interaktif bersama dengan konsumen.
- Mengorganisasikan perusahaan untuk dapat dengan cepat untuk tanggap dan mampu untuk menghadapi perubahan.
- Mengelola organisasi melalui kepemimpinan, motivasi, dukungan, dan kepercayaan.
- Dengan maksimal memanfaatkan information and communication technology (ICT)
- Mensamaratakan semua kemampuan, sumber daya, dan asset di semua lokasi.
- Bermitra dengan perusahaan lain sebagai salah satu pilihan strategi perusahaan, bukan sebagai pilihan terakhir.
- Dengan mudah beradaptasi dengan ekspektasi konsumen yang berubah-ubah.
- Menggunakan kreativitas yang tinggi dalam gaya manajemen perusahaan dan menciptakan produk.
- Menyediakan pelayanan konsumen yang sangat baik.
Untuk dapat mengakomodasi perubahan-perubahan tersebut, perusahaan perlu untuk memiliki pengetahuan atau intellectual capital yang baik dan terorganisasi. Menurut Quinn (1992) sebagian besar dari organisasi publik dan swasta dengan cepat bergeser menjadi repositori dan koordinator kegiatan berbasis pengetahuan. Karyawan dituntut untuk dapat lebih memanfaatkan pengetahuan, dan memiliki pengetahuan yang lebih banyak dalam menjalankan pekerjaan rutinnya. Pekerjaan rutin dari karyawan tidak lagi sekedar hanya pekerjaan rutinitas belaka, tetapi para karyawan pada saat ini dan masa yang akan datang, akan lebih didorong untuk melakukan pekerjaan yang mengharuskan karyawan untuk melakukan pengambilan keputusan strategis dalam pekerjaannya. Hal ini yang mendorong para karyawan untuk lebih berkompeten, lebih banyak skill, dan memiliki lebih banyak pengetahuan.
Bibliography
Constantinescu, M. (2008). Knowledge Management and Business Process Reengineering for Business Performance Improvement.
Harrington, H. J., Conner, D. R., & Horney, N. L. (2000). Project Change Management: Applying Change Management to Improvement Projects. McGraw-Hill.
Wigg, K. (2004). People-Focused Knowledge Management: How Effective Decision Making Leads to Corporate Success. Butterworth–Heinemann publications.