Apakah itu fundamental analysis? Mungkin yang berkecimpung di dunia investasi sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Saat ini dunia investasi terbagi menjadi 2 aliran utama yaitu fundamental analysis dan technical analysis. Dari pembagian ini saya pribadi kurang setuju, karena kedua analysis dapat dipergunakan secara bersamaan dan tidak saling bertentangan, malahan saling melengkapi.
Untuk memberikan gambaran mengenai fundamental analysis, maka saya menggunakan ilustrasi yang populer di kalangan fundamentalis. Manakah yang lebih murah, saham dengan harga Rp. 5,000 per lembar, atau saham dengan harga 25,000 per lembar? Apakah saham dengan harga Rp. 5,000 per lembar? Belum tentu!
Jika dianalogikan dengan ilustrasi yang manakah yang lebih baik dealnya, air mineral 500 ml dengan harga Rp. 5,000, atau daging sapi premium dengan harga Rp. 25,000 per kg. Tentunya deal yang lebih baik adalah Rp. 25,000 per kg. Dengan kata lain, besar kecilnya nominal saja tidak dapat menentukan murah tidaknya suatu barang, tetapi harus juga dinilai nilai ekonomis dari barang tersebut.
Begitu pula dengan saham. Saham dengan harga Rp. 5,000 per lembar belum tentu lebih murah dari saham dengan harga 25,000 per lembar. Murah tidaknya saham yang dibeli tergantung juga dari nilai ekonomis dari perusahaan yang ingin kita beli sahamnya. Aspek-aspek inilah yang coba digali oleh para fundamentalis. Mereka berburu saham-saham yang diskon atau yang dijual di bawah harga ekonomisnya, dengan harapan market cepat atau lambat akan mengapresiasikan saham-saham tersebut, dan harga saham tersebut naik hingga ke nilai ekonomis sebenarnya, bahkan lebih.
Timeframe yang diterapkan oleh para fundamental analyst biasanya panjang, bisa mencapai 3-5 tahun. Timeframe yang panjang ini diterapkan oleh karena konsep dari fundamentalis adalah yang mereka beli adalah bisnis, bukan spekulasi.