What is Fundamental Analysis

Posted on 2nd January 2011 in Fundamental Analysis

Apakah itu fundamental analysis? Mungkin yang berkecimpung di dunia investasi sudah tidak asing lagi dengan istilah ini. Saat ini dunia investasi terbagi menjadi 2 aliran utama yaitu fundamental analysis dan technical analysis. Dari pembagian ini saya pribadi kurang setuju, karena kedua analysis dapat dipergunakan secara bersamaan dan tidak saling bertentangan, malahan saling melengkapi.

Untuk memberikan gambaran mengenai fundamental analysis, maka saya menggunakan ilustrasi yang populer di kalangan fundamentalis. Manakah yang lebih murah, saham dengan harga Rp. 5,000 per lembar, atau saham dengan harga 25,000 per lembar? Apakah saham dengan harga Rp. 5,000 per lembar? Belum tentu!

Jika dianalogikan dengan ilustrasi yang manakah yang lebih baik dealnya, air mineral 500 ml dengan harga Rp. 5,000, atau daging sapi premium dengan harga Rp. 25,000 per kg. Tentunya deal yang lebih baik adalah Rp. 25,000 per kg. Dengan kata lain, besar kecilnya nominal saja tidak dapat menentukan murah tidaknya suatu barang, tetapi harus juga dinilai nilai ekonomis dari barang tersebut.

Begitu pula dengan saham. Saham dengan harga Rp. 5,000 per lembar belum tentu lebih murah dari saham dengan harga 25,000 per lembar. Murah tidaknya saham yang dibeli tergantung juga dari nilai ekonomis dari perusahaan yang ingin kita beli sahamnya. Aspek-aspek inilah yang coba digali oleh para fundamentalis. Mereka berburu saham-saham yang diskon atau yang dijual di bawah harga ekonomisnya, dengan harapan market cepat atau lambat akan mengapresiasikan saham-saham tersebut, dan harga saham tersebut naik hingga ke nilai ekonomis sebenarnya, bahkan lebih.

Timeframe yang diterapkan oleh para fundamental analyst biasanya panjang, bisa mencapai 3-5 tahun. Timeframe yang panjang ini diterapkan oleh karena konsep dari fundamentalis adalah yang mereka beli adalah bisnis, bukan spekulasi.

comments: 0 » tags:

Perjalanan Menjadi Seorang Trader Sukses

Posted on 13th October 2010 in Stock and Finance

Saya menemukan artikel bagus di Fengchart Blog. Artikel ini menjelaskan bagaimana proses menjadi trader yang sukses. Berikut adalah tahapan-tahapan perjalanan mulai dari pemula sampai menjadi trader sukses.

1. Pre-School:
Dimana-mana, di koran, di TV, di tempat kerja, di cafe… dll. Semua pada ngomongin saham dan reksadana karena profit yang jauh diatas deposito dikarenakan stock market, terutama beberapa saham tertentu yang hangat diperbincangkan. Ekonom dan analis pasar merekomendasikan untuk memilih saham dengan prospek yang luar biasa kedepannya.
Sebagai manusia yang normal dan sehat tentu saja menjadi tertarik untuk ikut-ikutan membeli saham. Mungkin lewat kenalan atau saudara ikut-ikutan main dikit, mungkin numpang account dulu. Mungkin juga profit sedikit karena pas kebetulan masih di bull market. Yang begini naik kelas, yang pas masuknya di bear market putus sekolah dan kapok masuk ke dunia saham lagi.

2. Kelas Junior Trader: (“greed indicator”)
Ternyata beli/jual saham cukup menguntungkan dibandingkan dengan deposito di bank. Dengan semangat tinggi maka mulai buka account sendiri di broker saham bagi yang belum punya sebelumnya. Apalagi dengan fasilitas online trading maka setiap saat pergerakan harga saham dapat dipantau setiap detiknya. Tradingnya masih mengikuti rekomendasi dari para analis dan “FA” (Feeling Analysis). Trading size masih relativ kecil. Di bull market tetap dapet cuan (profit). Perasaan jadi lebih confidence dengan gaya trading ala “FA” nya dan merasa sudah menjadi ahli dalam dunia saham. Pada saatnya bearish market tiba, ternyata nyangkut juga karena belinya pas di harga diujung pohon kelapa. Ada rumors dan news yang super bagus tapi harga turun terus dan portofolio dengan cepatnya merah membara. Dihitung dari modal awal yang terlihat hanya minus sekian persen. Harapan untuk market kembali membaik masih tinggi (masa sih saya salah beli?).
Di kelas ini mulailah timbul pertanyaan, “apa ada ya ilmunya mengenai saham?”
Saatnya naik kelas ke
3. Kelas Nyangkuter: (“fear indicator”)
Sahamnya punya banyak, ruginya bisa sampe 50% atau lebih juga mungkin. Mau Cut-Loss sdh tanggung. Dari sini punya pilihan menjadi

  • Investor “Gadungan” (yg ini dibahasnya 1-10 tahun lagi, not so urgent)
  • Kelas “Nyangkuter Optimis” kalau belum putus asa.

Mulai belajar TA (Technical Analysis), FA (Fundamental Analysis), diskusi, forum dsb.
Ikut workshop, browsing website, kenal TA-Indicators, bisa corat coret chart.
Mulai “PeDe” lagi. Mulai bisa cuan dikit. Saham-2 yang nyangkut mulai berkurang karena berani Cut-Loss. Berkeyakinan punya sistem yang “paten dan tidak bisa LOSS” dan pasti bisa menaklukkan pasar modal. Memandang remeh trader lain yang tidak percaya kepada trading systemnya. Masa depan yang cerah sudah ada didepan mata, profesi tetap hampir ditinggalkan. Kalau bikin prediksi merasa pasti betul karena menurut TA memang harus begitu. Kalau ada yang tidak percaya berani diajak taruhan apa saja. Pas market mendukung, cuan. Bikin testimony dimana mana. Tambah PeDe, Trading size tambah besar, pake full margin. Ternyata…..kena bear market lagi. Saham-2 banyak yang pada nyangkut lagi karena tidak ada istilah cut-loss dalam kamusnya. Cut-Loss berarti mengakui kalau prediksinya ternyata salah.
Masih berharap terus sahamnya bisa rebound lagi ke harga awal, karena di chart-nya begitu.
RESULT: Cuan-Loss=Loss buanyak.
Lulusan kelas ini mendapat ijasah: Nyangkuter Senior

- Yg sudah cape, masih terbuka peluang menjadi “Investor gadungan” (1-10 thn)
- Yang pake margin bisa bangkrut, drop-out sekolahnya, balik lagi menekuni bidang kerjanya.
- Yg masih ada modal dan optimis, bisa naik kelas.
Yang naik kelas ikutan ke Kelas:

4. Trader Junior:
Sudah mengenal Trading plan, tahu Kapan entry dan kapan exit. Juga sudah kenal apa itu Money Management tapi belum tahu bagaimana implementasinya. Trading size tambah besar dan kenal banget dengan semua software, buku dan memperdalam ilmu terus. Bisa cuan tapi masih loss juga karena belum konsisten dengan trading plan dan money management. Buy masih dipengaruhi kalau market lagi naik-naiknya, lihat running trade tidak tahan, terus beli di harga paling atas.
RESULT: masih loss tapi sangat optimis karena tahu dimana letak kesalahannya. Kalau masih ada modal bisa naik kelas, yg udah abis dipaksa drop-out -> kerja lagi ke profesi awal kalau sebelumnya sudah berhenti.

5. Trader Senior:
Disini sekolahnya lama dan sangat melelahkan. Yang putus asa atau abis modal masih ada alternativ jadi “investor gadungan” atau drop-out juga.
Belajar menentukan timing tepat Entry dan Exit dan tidak terpengaruh dengan emosi (tetap pasti ada sih, namanya juga manusia…) dan mulai dapat konsisten dengan trading plan dan money management. Sadar kalau market itu tidak harus sesuai arah dengan hasil analisanya. Chart hanya dipakai sebagai alat bantu untuk trading plan secara konsisten, tapi tetap jaga-jaga (emergency plan) kalau ternyata market tidak sesuai dengan TA nya. Mulai memperhatikan FA dan event-2 penting (trend global, regional market, cum devident, laporan keuangan, pengumuman macro economic spt. Inflasi, interest rate dsb.) yang mempengaruhi harga saham.
RESULT: tradingnya ada yg rugi dan ada yg cuan, tapi hasil totalnya ternyata CUAN ! atau Tidak Rugi di Market yg lagi bearish kalau Loss juga terbatas

Yang bisa lulus dapat sertifikat:
6. Successful Trader
Greed dan Fear sudah bisa balance. Seperti orang naik sepeda, untuk bisa harus belajar dulu, tidak bisa hanya dengan teori atau ikutan workshop saja sudah terus bisa keenakan naik sepeda (“greed”?) tapi harus praktek juga bersama dengan jatuh bangun dan babak belurnya (kenal “fear”). Asal jangan sampai … KO saja. Kalau sudah bisa naik sepeda, semua teori tentang balancing, rem, kecepatan, gimana kalau ada bahaya/mobil, nyebrang jalan dsb., sudah menjadi otomatis dan dalam situasi bahaya bisa cepat bertindak dengan benar, sehingga bisa sampai dengan cepat dan selamat.
RESULT: tetap ada trading yg rugi dan cuan, tapi di portofolio asetnya mulai bertambah.
AWAS KOMPLIKASI: menjadi hebat, merasa punya sistem trading yang paling hebat dan selalu profit di segala situasi market. Padahal, keberhasilan trading sistem sangat tergantung dengan karakteristik stock market saat itu dan selalu berkembang. Sehingga sebagai trader harus juga secara terus-menerus mengembangkan kemampuan untuk membaca situasi market (bullish, bearish, side-ways) sehingga bisa menerapkan strategi yang sesuai dengan kondisi marketnya.
PS: semoga kita bisa melalui cobaan di kelas 1-6 sehingga lulus menjadi Successful Trader… Amen….

comments: 0 »

Cara Memasukkan Data Intraday JSX ke Ami Broker

Posted on 13th October 2010 in Stock and Finance

Karena banyak yang belum tahu, jadi sengaja saya buat tutorial untuk memasukkan data intraday Jakarta Stock Exchange ke dalam Amibroker.

Untuk datanya, bisa diambil di http://www.yungdarius.com

Oke, untuk langkah pertama, download dahulu datanya, lalu buka Amibroker nya (tentunya dong :D )

Lalu di menubar, pilih file -> new -> database
file -> new -> database

Lalu akan muncul pop up window seperti ini:
pop up window

Masukkan nama database yang ingin dibuat, lalu klik tombol Create.

Jika berhasil, window akan menjadi seperti yang di bawah ini:

Lalu klik tombol OK.

Langkah selanjutnya adalah pilih menu file -> import wizard…

Maka akan muncul window seperti dibawah ini:

Klik tombol Pick Files, lalu pilih data yang sudah didownload tadi (disini untuk contohnya, saya menggunakan data 18 November 2009)

Setelah klik tombol Next, langkah selanjutnya ikuti konfigurasi seperti di bawah ini:

Setelah dikonfigurasikan, klik tombol Next, lalu beri nama untuk format yang baru saja kita buat, lalu klik tombol Finish

Kita sudah berhasil membuat konfigurasi importnya. Selanjutnya kita tinggal memasukkan datanya dengan cara memilih menu file -> import ASCII

Itu sekilas cara memasukkan data intraday JSX ke Amibroker.
Mudah-mudahan cukup jelas.

Jika ada pertanyaan, silahkan tinggalkan komentar anda disini.

How to Trade With MA (2)

Posted on 16th August 2010 in Technical Analysis

Setelah artikel yang lalu membahas mengenai penggunaan MA dalam trading, maka jika kita lihat sering kali terjadi whipsaw atau false signal. Makin kecil parameter MA nya, maka garis MA nya makin sensitif, dan peluang terjadinya whipsaw atau false signal makin besar.

Salah satu cara untuk mengurangi resiko loss akibat whipsaw atau false signal ini adalah 2 days trade. Yang dimaksud dengan 2 days trade adalah, ketika signal muncul (baik buy atau sell), maka eksekusi tidak langsung dilakukan hari itu juga. Keputusan eksekusinya dilakukan di hari kedua dengan sebagai bahan pertimbangan yaitu penutupan harga hari itu apakah mengkonfirmasikan signal yang muncul.

Gambar diatas menunjukkan contoh false signal sell di MA(20) pada chart BBRI yang terjadi pada tanggal 8 Juli 2010. Jika menggunakan metode 2 days trade, maka transaksi sell tidak akan dilakukan sampai keesokan harinya. Pada keesokan harinya (9 Juli 2010), penutupan harga di atas garis MA, sehingga transaksi sell tidak perlu dilakukan.

Merujuk dengan contoh chart di atas, maka dengan menggunakan metode 2 days trade, profit dapat lebih maximal. Metode ini dapat dimodifikasi, misal memakai time frame yang lebih lama seperti 3 hari. Resiko dari metode ini adalah, jika ternyata signal yang timbul bukanlah false signal, maka kita telah telat selangkah. Yah tapi kembali lagi, trading is all about risk and reward. As long as the reward is greater than the risk, go ahead :D

comments: 0 » tags: ,

How to Trade With MA (1)

Posted on 4th July 2010 in Technical Analysis

Setelah kemarin membahas sekilas mengenai Moving Average di Introduction to Moving Average, sekarang mari belajar untuk trading dengan menggunakan MA. Seperti yang saya sudah singgung di post sebelumnya, MA ini dapat digunakan untuk menentukan support dan resistance, sehingga dapat dijadikan acuan untuk entry dan exit.

Hal terpenting dalam MA adalah menentukan parameter dari MA itu sendiri. Untuk MA yang umum dipakai adalah MA(5) untuk trading jangka pendek, MA(20) untuk trading jangka pendek-menengah, MA(50) untuk trading jangka menengah, MA(100) atau MA(200) untuk trading jangka panjang.

Di bawah ini contoh chart ASII dengan EMA(20).

EMA(20) Pada ASII

EMA(20) Pada PT Astra International, Tbk. (ASII)

Dapat dilihat bahwa garis EMA(20) cukup kuat dalam menjadi support dan resistance.

Untuk penggunaan MA dalam trading cukup simpel, yaitu beli pada saat harga di atas garis MA atau harga menembus resistance, dan jual jika harga di bawah garis MA atau garis support jebol.

Signal EMA(20) pada ASII

Signal EMA(20) pada ASII

Volume transaksi pun sangat berperan dalam validitas indikator MA ini. Penembusan garis MA ini harus diikuti dengan volume yang di atas rata-rata volume transaksi emiten. Jika volume kecil atau tidak signifikan, maka validitas dari indikator MA itu perlu dipertanyakan dan dianalisa lebih lanjut

Sebagai acuan harga, saya menggunakan harga penutupan dari emiten. Sehingga indikator beli atau jual menggunakan MA berdasarkan harga penutupan dari emiten. Untuk tipe chart sendiri, saya menggunakan candlestick. Untuk yang belum tahu cara membaca candlestick, dapat membaca artikel saya Cara Membaca Chart Candle Stick.

Contoh Trading dengan EMA pada ASII

Contoh Trading dengan EMA pada ASII

Berdasarkan indikator EMA(20) pada chart ASII ini, jika disiplin menggunakannya, maka pada tanggal 12 Februari 2010 adalah saatnya untuk beli. Dengan asumsi beli di harga penutupan, maka  harga beli Rp. 35,300. Dan pada tanggal 5 Mei 2010, signal jual muncul. Dengan asumsi jual di harga penutupan, maka harga jual Rp.43,450.

Maka gain yang bisa didapatkan sebesar 43,450-35,300 = Rp. 8,150 atau sekitar 23%

Lumayan khan 23% dalam waktu kurang dari 3 bulan :)

Pada tanggal 27 Mei 2010, ketika ada signal beli, dapat beli kembali.

Jika disiplin dalam penggunakan indikator MA ini, maka kita bisa ride the wave, ikut profit ketika market bullish, dan modal terselamatkan ketika market bearish (dapat dilihat setelah 5 Mei 2010 ketika garis EMA(20) jebol, harga ASII jatuh dalam).

Penentuan parameter dan jenis MA yang cocok untuk sebuah emiten adalah hal yang krusial, dan dalam menentukan parameter ini butuh intuisi. Masing-masing trader dapat mempunya parameter MA yang berbeda-beda satu dengan yang lain untuk suatu emiten. Oleh karena itu banyak kalangan yang berpendapat bahwa trading itu adalah seni, bukan sekedar ilmu pengetahuan.

Salah satu cara yang efektif untuk menentukan MA yang optimal adalah dengan melakukan backtesting. Backtesting adalah proses untuk menguji indikator dengan data-data historis. Dari hasil backtesting, maka dapat diketahui parameter MA berapa yang menghasilkan return yang optimal berdasarkan data-data historis. Backtesting ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti Amibroker, atau Metastock.

Saya sendiri jujur belum pernah melakukan backtesting, karena masih belum mengerti cara melakukan backtesting di Amibroker atau Metastock :)

Oleh karena itu saya menggunakan parameter MA yang umum digunakan seperti EMA(5), EMA(20), EMA(50), EMA(100). Jika saya lihat MA tersebut kurang cocok, maka saya adjust hanya berdasarkan intuisi saja :D

Yah…ingin nih belajar backtesting, tapi udah coba utak-atik, masih belum tahu juga caranya :) Semoga bisa dapat pencerahan deh :)

Perlu diingat bahwa Moving Average (MA) adalah lagging indicator, sehingga “telat” dalam memberikan signal. Biasanya kejadian terjadi terlebih dahulu, baru kemudian muncul signal. Contohnya, signal beli pada 27 Mei 2010, signal baru muncul pada tanggal 27 Mei 2010, padahal reversal sudah terjadi sejak 26 Mei 2010.

Walaupun termasuk golongan lagging indicator, tetapi Moving Average sangat efektif untuk digunakan dalam trading. Biarpun lagging, toh yang penting bisa profit.
Seperti petuah seorang suhu di dunia trading:

Mendingan terlambat daripada ditabrak kereta

Cara Membaca Chart Candle Stick

Posted on 4th July 2010 in Technical Analysis

Saat ini ada banyak tipe-tipe chart yang dapt digunakan untuk trading, salah satunya yang paling populer adalah candle stick. Di tiap candle stick chart ini memuat informasi harga pembukaan, harga penutupan, harga terendah, dan harga tertinggi.

Candlestick Chart

Candlestick Chart

Untuk bentuk dan pola dari candle stick ini ada bermacam-macam, tetapi pada dasarnya terdiri dari 3 macam bentuk candle yaitu:

  1. Bullish candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) > harga pembukaan (opening price). Warna pada badan candle ini biasanya berwarna hijau atau putih.
  2. Bearish candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) < harga pembukaan (opening price). Warna pada badan candle ini biasanya berwarna merah atau hitam.
  3. Doji candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) = harga pembukaan (opening price).

Untuk pola dari candle stick sendiri ada ratusan, yang masing-masing pola dapat memberikan gambaran dari arah market ke depan. Tetapi tidak perlu menghafal semua pola-polanya. Yang terpenting adalah tahu pola-pola penting dari candle stick dan mengerti psikologi dari pola candle stick chart tersebut.

comments: 0 » tags: ,

Introduction to Moving Average

Posted on 29th June 2010 in Technical Analysis

Introduction to MA

Moving Average (MA) adalah salah satu indicator dalam Technical Analysis yang paling sering digunakan oleh para trader. Moving Average ini sangat efektif digunakan sebagai salah satu alat untuk menentukan support dan resistance harga.

Dasar perhitungan dari MA adalah dengan mencari harga rata-rata dari suatu emiten. Rentang waktu rata-rata harga tersebut bervariasi, tergantung parameter MA yang diinginkan.

Sebagai contoh data harga penutupan saham X selama 2 minggu (10 hari) adalah sebagai berikut:
1900,1910,1940,1920,1900,1850,1870,1900,1930,1950

Maka untuk perhitungan untuk MA(5) pada hari kesepuluh adalah:

SMA(5) = (1850+1870+1900+1930+1950)/5 = 1900

Jika hari ke-11 penutupan harga di 1930, maka MA(5) pada hari kesebelas adalah:

SMA(5) = (1870+1900+1930+1950+1930)/5 = 1916

Gambar di bawah ini adalah contoh chart ADRO dengan indicator SMA(5) warna merah dan SMA(20) warna biru

SMA 5 dan 20 ADRO

Contoh SMA 5 dan 20 ADRO

Untuk jenis-jenis SMA yang umum dipakai ada 3, yaitu:

  • Simple Moving Average (SMA)
    Rumus menghitung SMA cukup mudah, yaitu dengan merata-ratakan langsung harga-harga penutupan di hari-hari sebelumnya.
  • Exponential Moving Average (EMA)
    Prinsip dasar EMA ini bobot dari harga hari ini dan kemarin berbeda. Bobot harga lama lebih rendah dibanding harga baru. Karena adanya pembobotan ini, perhitungan EMA lebih rumit. EMA ini lebih banyak digunakan dibandingkan SMA, karena EMA ini lebih sensitif dan dapat memberikan signal lebih cepat dibanding SMA
  • Displaced Moving Average (DMA)
    DMA adalah SMA yang dimajukan. DMA digunakan oleh para trader untuk mengurangi volatilitas harga (whipsaw), sehingga chart lebih smooth. Tapi jujur, DMA ini tidak pernah saya gunakan :) Dengan menggunakan contoh data harga saham X, maka DMA(5,close,3) adalah:DMA(5,close,3) = (1940+1920+1900+1850+1870)/5 = 1896

Untuk jenis-jenis MA masih ada beberapa lagi contohnya Double Exponential Moving Average (DEMA), Triple Exponential Moving Average (TEMA),  Weighted Moving Average (WMA), dan lain-lain.

Perlu diingat juga bahwa MA ini adalah lagging indicator. Yang dimaksud lagging indicator adalah, signal keluar setelah kejadian telah terjadi. Sehingga MA tidak bisa untuk digunakan untuk prediksi arah market. MA hanya digunakan sebagai referensi untuk pengambilan keputusan berdasarkan penutupan harga saham.

Mengutip dari investopedia.com, definisi lagging indicator adalah:

Technical indicator that trails the price action of an underlying asset and is used by traders to generate transaction signals or to confirm the strength of a given trend. Since these indicators lag the price of the asset, a significant move will generally occur before the indicator is able to provide a signal.

Yang ingin ditekankan adalah pemilihan MA ada di sisi trader, tergantung dari trading plan yang digunakan. Tetapi saya pribadi menggunakan EMA. Tidak masalah MA apa yang digunakan, yang penting dapat memberikan profit konsisten.