How to Trade With MA (2)

Posted on 16th August 2010 in Technical Analysis

Setelah artikel yang lalu membahas mengenai penggunaan MA dalam trading, maka jika kita lihat sering kali terjadi whipsaw atau false signal. Makin kecil parameter MA nya, maka garis MA nya makin sensitif, dan peluang terjadinya whipsaw atau false signal makin besar.

Salah satu cara untuk mengurangi resiko loss akibat whipsaw atau false signal ini adalah 2 days trade. Yang dimaksud dengan 2 days trade adalah, ketika signal muncul (baik buy atau sell), maka eksekusi tidak langsung dilakukan hari itu juga. Keputusan eksekusinya dilakukan di hari kedua dengan sebagai bahan pertimbangan yaitu penutupan harga hari itu apakah mengkonfirmasikan signal yang muncul.

Gambar diatas menunjukkan contoh false signal sell di MA(20) pada chart BBRI yang terjadi pada tanggal 8 Juli 2010. Jika menggunakan metode 2 days trade, maka transaksi sell tidak akan dilakukan sampai keesokan harinya. Pada keesokan harinya (9 Juli 2010), penutupan harga di atas garis MA, sehingga transaksi sell tidak perlu dilakukan.

Merujuk dengan contoh chart di atas, maka dengan menggunakan metode 2 days trade, profit dapat lebih maximal. Metode ini dapat dimodifikasi, misal memakai time frame yang lebih lama seperti 3 hari. Resiko dari metode ini adalah, jika ternyata signal yang timbul bukanlah false signal, maka kita telah telat selangkah. Yah tapi kembali lagi, trading is all about risk and reward. As long as the reward is greater than the risk, go ahead :D

comments: 0 » tags: ,

How to Trade With MA (1)

Posted on 4th July 2010 in Technical Analysis

Setelah kemarin membahas sekilas mengenai Moving Average di Introduction to Moving Average, sekarang mari belajar untuk trading dengan menggunakan MA. Seperti yang saya sudah singgung di post sebelumnya, MA ini dapat digunakan untuk menentukan support dan resistance, sehingga dapat dijadikan acuan untuk entry dan exit.

Hal terpenting dalam MA adalah menentukan parameter dari MA itu sendiri. Untuk MA yang umum dipakai adalah MA(5) untuk trading jangka pendek, MA(20) untuk trading jangka pendek-menengah, MA(50) untuk trading jangka menengah, MA(100) atau MA(200) untuk trading jangka panjang.

Di bawah ini contoh chart ASII dengan EMA(20).

EMA(20) Pada ASII

EMA(20) Pada PT Astra International, Tbk. (ASII)

Dapat dilihat bahwa garis EMA(20) cukup kuat dalam menjadi support dan resistance.

Untuk penggunaan MA dalam trading cukup simpel, yaitu beli pada saat harga di atas garis MA atau harga menembus resistance, dan jual jika harga di bawah garis MA atau garis support jebol.

Signal EMA(20) pada ASII

Signal EMA(20) pada ASII

Volume transaksi pun sangat berperan dalam validitas indikator MA ini. Penembusan garis MA ini harus diikuti dengan volume yang di atas rata-rata volume transaksi emiten. Jika volume kecil atau tidak signifikan, maka validitas dari indikator MA itu perlu dipertanyakan dan dianalisa lebih lanjut

Sebagai acuan harga, saya menggunakan harga penutupan dari emiten. Sehingga indikator beli atau jual menggunakan MA berdasarkan harga penutupan dari emiten. Untuk tipe chart sendiri, saya menggunakan candlestick. Untuk yang belum tahu cara membaca candlestick, dapat membaca artikel saya Cara Membaca Chart Candle Stick.

Contoh Trading dengan EMA pada ASII

Contoh Trading dengan EMA pada ASII

Berdasarkan indikator EMA(20) pada chart ASII ini, jika disiplin menggunakannya, maka pada tanggal 12 Februari 2010 adalah saatnya untuk beli. Dengan asumsi beli di harga penutupan, maka  harga beli Rp. 35,300. Dan pada tanggal 5 Mei 2010, signal jual muncul. Dengan asumsi jual di harga penutupan, maka harga jual Rp.43,450.

Maka gain yang bisa didapatkan sebesar 43,450-35,300 = Rp. 8,150 atau sekitar 23%

Lumayan khan 23% dalam waktu kurang dari 3 bulan :)

Pada tanggal 27 Mei 2010, ketika ada signal beli, dapat beli kembali.

Jika disiplin dalam penggunakan indikator MA ini, maka kita bisa ride the wave, ikut profit ketika market bullish, dan modal terselamatkan ketika market bearish (dapat dilihat setelah 5 Mei 2010 ketika garis EMA(20) jebol, harga ASII jatuh dalam).

Penentuan parameter dan jenis MA yang cocok untuk sebuah emiten adalah hal yang krusial, dan dalam menentukan parameter ini butuh intuisi. Masing-masing trader dapat mempunya parameter MA yang berbeda-beda satu dengan yang lain untuk suatu emiten. Oleh karena itu banyak kalangan yang berpendapat bahwa trading itu adalah seni, bukan sekedar ilmu pengetahuan.

Salah satu cara yang efektif untuk menentukan MA yang optimal adalah dengan melakukan backtesting. Backtesting adalah proses untuk menguji indikator dengan data-data historis. Dari hasil backtesting, maka dapat diketahui parameter MA berapa yang menghasilkan return yang optimal berdasarkan data-data historis. Backtesting ini dapat dilakukan dengan menggunakan alat bantu seperti Amibroker, atau Metastock.

Saya sendiri jujur belum pernah melakukan backtesting, karena masih belum mengerti cara melakukan backtesting di Amibroker atau Metastock :)

Oleh karena itu saya menggunakan parameter MA yang umum digunakan seperti EMA(5), EMA(20), EMA(50), EMA(100). Jika saya lihat MA tersebut kurang cocok, maka saya adjust hanya berdasarkan intuisi saja :D

Yah…ingin nih belajar backtesting, tapi udah coba utak-atik, masih belum tahu juga caranya :) Semoga bisa dapat pencerahan deh :)

Perlu diingat bahwa Moving Average (MA) adalah lagging indicator, sehingga “telat” dalam memberikan signal. Biasanya kejadian terjadi terlebih dahulu, baru kemudian muncul signal. Contohnya, signal beli pada 27 Mei 2010, signal baru muncul pada tanggal 27 Mei 2010, padahal reversal sudah terjadi sejak 26 Mei 2010.

Walaupun termasuk golongan lagging indicator, tetapi Moving Average sangat efektif untuk digunakan dalam trading. Biarpun lagging, toh yang penting bisa profit.
Seperti petuah seorang suhu di dunia trading:

Mendingan terlambat daripada ditabrak kereta

Cara Membaca Chart Candle Stick

Posted on 4th July 2010 in Technical Analysis

Saat ini ada banyak tipe-tipe chart yang dapt digunakan untuk trading, salah satunya yang paling populer adalah candle stick. Di tiap candle stick chart ini memuat informasi harga pembukaan, harga penutupan, harga terendah, dan harga tertinggi.

Candlestick Chart

Candlestick Chart

Untuk bentuk dan pola dari candle stick ini ada bermacam-macam, tetapi pada dasarnya terdiri dari 3 macam bentuk candle yaitu:

  1. Bullish candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) > harga pembukaan (opening price). Warna pada badan candle ini biasanya berwarna hijau atau putih.
  2. Bearish candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) < harga pembukaan (opening price). Warna pada badan candle ini biasanya berwarna merah atau hitam.
  3. Doji candle
    Pada jenis candle ini, harga penutupan (closing price) = harga pembukaan (opening price).

Untuk pola dari candle stick sendiri ada ratusan, yang masing-masing pola dapat memberikan gambaran dari arah market ke depan. Tetapi tidak perlu menghafal semua pola-polanya. Yang terpenting adalah tahu pola-pola penting dari candle stick dan mengerti psikologi dari pola candle stick chart tersebut.

comments: 0 » tags: ,

Introduction to Moving Average

Posted on 29th June 2010 in Technical Analysis

Introduction to MA

Moving Average (MA) adalah salah satu indicator dalam Technical Analysis yang paling sering digunakan oleh para trader. Moving Average ini sangat efektif digunakan sebagai salah satu alat untuk menentukan support dan resistance harga.

Dasar perhitungan dari MA adalah dengan mencari harga rata-rata dari suatu emiten. Rentang waktu rata-rata harga tersebut bervariasi, tergantung parameter MA yang diinginkan.

Sebagai contoh data harga penutupan saham X selama 2 minggu (10 hari) adalah sebagai berikut:
1900,1910,1940,1920,1900,1850,1870,1900,1930,1950

Maka untuk perhitungan untuk MA(5) pada hari kesepuluh adalah:

SMA(5) = (1850+1870+1900+1930+1950)/5 = 1900

Jika hari ke-11 penutupan harga di 1930, maka MA(5) pada hari kesebelas adalah:

SMA(5) = (1870+1900+1930+1950+1930)/5 = 1916

Gambar di bawah ini adalah contoh chart ADRO dengan indicator SMA(5) warna merah dan SMA(20) warna biru

SMA 5 dan 20 ADRO

Contoh SMA 5 dan 20 ADRO

Untuk jenis-jenis SMA yang umum dipakai ada 3, yaitu:

  • Simple Moving Average (SMA)
    Rumus menghitung SMA cukup mudah, yaitu dengan merata-ratakan langsung harga-harga penutupan di hari-hari sebelumnya.
  • Exponential Moving Average (EMA)
    Prinsip dasar EMA ini bobot dari harga hari ini dan kemarin berbeda. Bobot harga lama lebih rendah dibanding harga baru. Karena adanya pembobotan ini, perhitungan EMA lebih rumit. EMA ini lebih banyak digunakan dibandingkan SMA, karena EMA ini lebih sensitif dan dapat memberikan signal lebih cepat dibanding SMA
  • Displaced Moving Average (DMA)
    DMA adalah SMA yang dimajukan. DMA digunakan oleh para trader untuk mengurangi volatilitas harga (whipsaw), sehingga chart lebih smooth. Tapi jujur, DMA ini tidak pernah saya gunakan :) Dengan menggunakan contoh data harga saham X, maka DMA(5,close,3) adalah:DMA(5,close,3) = (1940+1920+1900+1850+1870)/5 = 1896

Untuk jenis-jenis MA masih ada beberapa lagi contohnya Double Exponential Moving Average (DEMA), Triple Exponential Moving Average (TEMA),  Weighted Moving Average (WMA), dan lain-lain.

Perlu diingat juga bahwa MA ini adalah lagging indicator. Yang dimaksud lagging indicator adalah, signal keluar setelah kejadian telah terjadi. Sehingga MA tidak bisa untuk digunakan untuk prediksi arah market. MA hanya digunakan sebagai referensi untuk pengambilan keputusan berdasarkan penutupan harga saham.

Mengutip dari investopedia.com, definisi lagging indicator adalah:

Technical indicator that trails the price action of an underlying asset and is used by traders to generate transaction signals or to confirm the strength of a given trend. Since these indicators lag the price of the asset, a significant move will generally occur before the indicator is able to provide a signal.

Yang ingin ditekankan adalah pemilihan MA ada di sisi trader, tergantung dari trading plan yang digunakan. Tetapi saya pribadi menggunakan EMA. Tidak masalah MA apa yang digunakan, yang penting dapat memberikan profit konsisten.